Motivasi dan Sosialisasi Sukses Studi Lanjut bersama Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU. di Gadingmangu

Pada Jumat malam, 14 November 2025, Aula Pondok Pesantren Gadingmangu dipenuhi atmosfer yang berbeda. Malam itu, Yayasan Pendidikan Budi Utomo Gadingmangu mempersembahkan sebuah program istimewa: Motivasi dan Sosialisasi Sukses Studi Lanjut bersama sosok inspiratif, Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU., Ketua DPW LDII DIY sekaligus dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) serta penerima beasiswa studi di Jepang.

Acara ini digelar secara hybrid. Wali murid yang berdomisili di Gadingmangu hadir langsung di aula, sementara peserta dari luar daerah mengikuti melalui Zoom dan kanal YouTube. Meski berbeda ruang, semangat dan antusiasme seluruh peserta menyatu dalam satu tujuan: membuka cakrawala tentang peluang pendidikan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.
Pesan Inspiratif dari Penerima Beasiswa Jepang
Dalam pemaparannya, Ir. Atus Syahbudin membagikan perjalanan hidupnya yang tak lepas dari kerja keras, kegigihan, dan doa. Beliau menggarisbawahi bahwa kesempatan studi lanjut, termasuk beasiswa luar negeri, bukan hanya milik mereka yang “sangat pintar”, tetapi milik siapa saja yang mau berproses dan berkomitmen.
“Saya dulu bukan anak yang selalu juara satu. Tapi saya punya tekad. Tekad itulah yang membawa saya kuliah S2 dan S3 di Jepang. Kesempatan itu terbuka untuk semua anak, asal sungguh-sungguh,” ujarnya di hadapan peserta.
Beliau juga mendorong siswa dan wali murid untuk membangun budaya belajar yang disiplin, membiasakan target akademik, serta menanamkan keberanian bermimpi tinggi.

Kejutan Spesial: Sang Anak dan Istri Turut Menjadi Pembicara
Acara semakin menarik ketika Ir. Atus menghadirkan dua narasumber tambahan melalui Zoom langsung dari Jepang—putra beliau yang sedang melanjutkan studi, serta istri beliau yang ikut berbagi perspektif sebagai orang tua sekaligus pendamping perjuangan anak-anak dalam pendidikan.
Sang putra memberikan gambaran nyata kehidupan mahasiswa di Jepang: mulai dari proses pendaftaran, budaya akademik, hingga tips bertahan selama studi.
“Belajar di luar negeri bukan cuma soal akademik, tapi juga cara kita mengatur waktu, mandiri, dan beradaptasi dengan lingkungan baru,” tuturnya.

Sementara itu, istri Ir. Atus menyampaikan sudut pandang penting tentang peran keluarga:
“Orang tua harus menjadi penyemangat. Anak harus merasa bahwa keluarganya percaya pada kemampuan mereka,” ungkapnya.
Kolaborasi tiga narasumber ini membuat acara terasa hangat, lengkap, dan menyentuh sisi akademik, keluarga, hingga psikologis.
Suasana Antusias dan Peserta yang Aktif
Baik peserta luring maupun daring aktif mengajukan pertanyaan. Para wali murid banyak menanyakan strategi menyiapkan anak sejak dini, sementara siswa tertarik dengan cara mendapatkan beasiswa, kemampuan bahasa, serta pengelolaan waktu saat kuliah di luar negeri.
Moderator beberapa kali terlihat kewalahan menampung pertanyaan—sebuah tanda bahwa materi malam itu benar-benar menyentuh kebutuhan peserta.

WAWANCARA EKSKLUSIF
Bersama Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU.
SMA Budi Utomo Gadingmangu:
Dalam kegiatan ini, apa sebenarnya yang ingin bapak sampaikan kepada para orangtua dan wali murid?
Ir. Atus:
Saya ingin memberikan gambaran bahwa dunia pendidikan itu luas. Anak-anak Indonesia, termasuk dari daerah, punya peluang sama besarnya untuk kuliah hingga ke luar negeri. Saya ingin mereka percaya diri dan mau menyiapkan diri sejak sekarang.
SMA Budi Utomo Gadingmangu:
Banyak siswa sering merasa minder untuk mendaftar beasiswa luar negeri. Apa pesan Bapak?
Ir. Atus:
Buang rasa minder. Beasiswa itu bukan dicari oleh orang yang sempurna, tapi oleh orang yang berusaha. Tunjukkan karakter, kerja keras, dan kemampuan beradaptasi. Itu yang dicari negara-negara maju.
SMA Budi Utomo Gadingmangu:
Bagaimana peran orang tua dalam mendukung studi lanjut?
Ir. Atus:
Orang tua harus mendampingi. Bukan sekadar menuntut, tapi memberi contoh kedisiplinan, menyediakan lingkungan belajar, dan memberi kepercayaan. Ketika anak merasa didukung, mereka lebih berani melangkah.
SMA Budi Utomo Gadingmangu:
Apa harapan Bapak untuk para orangtua dan wali murid yang mengikuti kegiatan pada malam hari ini?
Ir. Atus:
Saya ingin anak-anak di sini berani bermimpi besar, dan tidak hanya bermimpi, tapi mengeksekusi. Semoga ada yang bisa menyusul kuliah di Jepang, Eropa, atau negara mana pun yang mereka cita-citakan.
Penutup: Langkah Kecil Menuju Masa Depan Besar
Acara ini tidak hanya memberikan wawasan akademik, tetapi juga menghadirkan inspirasi emosional yang mendalam bagi siswa dan orang tua. Perpaduan pengalaman pribadi, motivasi, dan informasi teknis beasiswa menjadikan malam itu penuh makna.
Yayasan Pendidikan Budi Utomo Gadingmangu berharap kegiatan ini menjadi titik awal bagi lahirnya generasi muda yang tidak hanya bermimpi tinggi, tetapi berani berjuang mewujudkannya—hingga suatu saat mereka mampu berkata: “Saya bisa karena saya memulai.”

